Layar Terkembang
Dua hari kemarin saya keluar kota, dan tidak bisa bersentuhan dengan internet untuk sekedar merangkai kata diteras saya ini… dan hari ini saya kembali, iya kembali merangkai kata-kata yang bergejolak dalam jiwa saya, karena saya menulis dengan jiwa bukan hanya dengan pikiran, berharap apapun yang tertera di teras blog ini dapat memberi arti hidup, setidaknya untuk saya.
Dua hari kemarin saya melihat di infoteinment suatu prosesi kepulangan, kepulangan om Sophan Sophian… saya memang tidak mengenal dia, bahkan bertemupun tidak pernah tapi saya merasa ada bagian dari hidupnya yang bisa saya ambil sebagai bekal hidup saya yaitu “kasidah cinta“ terhadap kekasihnya yang tidak pernah padam termakan usia hingga napas terakhirnya [ah, jika saja cinta itu memang ada] dan disaat kepulangannya saya tidak melihat kepergiaannya sebagai prosesi kepulangan tapi saya melihat kepulangannya sebagai suatu prosesi cinta, kasidah cinta yang menggema di jiwa sang kekasih. Innalillahi wa inna illahi rajiun…
Ada pemandangan ajaib untuk jiwa saya saat saya melihat di TV bagaimana saat sang Widyawati mencium kening kekasihnya sesaat sebelum jasad yang terbujur kaku itu hendak ditutup kafan, kecupan yang tidak lagi hangat, belaian yang bersimbah airmata, tatapan yang berlumur duka, kepala yang nyaris tidak lagi bisa terangkat, jiwa diantara napas yang mulai sesak terisi oleh luka yang dalam, luka kehilangan, ah IKHLASKAN cinta pergi memang bukan hal yang mudah [ini harus saya akui...]
Lalu saya bertanya akankah akhir perjalanan saya, akan seindah itu?…
Pemandangan ajaib lainnya adalah saat jasad yang terbujur kaku itu hendak dimakamkan, ratusan orang bahkan ribuan menggemakan tahlil mengiring sang jasad masuk kedalam rumah terakhir, lalu saya bertanya kepada jiwa saya akankah akhir perjalanan napas saya akan diantar oleh ratusan orang yang menggemakan kalimat “La illahaill ALLAH” mengiring kepulangan saya, akankah ada airmwar harum yang tersiram diantara tanah basah yang terlipat untuk saya, akankah ada jutaan mawar berwarna merah, melati yang teruntai sebagai gordyn tanah merah yang melipat saya… ah sungguh kasidah cinta yang indah mengiring layar terkembang membawa jasad sang kekasih ketempat peristirahatan terakhir, menghadap mahkamah ALLAH.
Saya tidak bisa membayangkan berapa banyak airmata yang akan tertumpah saat jasad saya terbungkus gaun kemegahan bernama KAFAN, saya tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan duka orang-orang yang akan saya tinggalkan bersama dengan LAYAR terkembang yang akan membawa saya ke dalam keabadian, dan saya tidak bisa membayangkan sudah siapkah saya bertemu dengan pemilik napas saya untuk mempertanggung jawabkan waktu… iya layar terkembang itu pasti datang dan saat ini sedang menuju ke saya, menuju kepada setiap insan yang memiliki napas, bukankah napas pasti akan TERHENTI… PASTI terhenti, hanya masalah waktu kapan layar itu akan terkembang dan membawa kita kembali.
Selamat jalan kekasih … kaulah cinta dalam hidupku … aku kehilanganmu … untuk selama-lamanya …
(Rita Effendy: Lyric lagu “selamat jalan kekasih” adalah kasidah cinta yang indah untuk mengiring prosesi layar terkembang om Sophan. Selamat jalan.. ]
Esok, lusa … mungkin saya, kamu, bukankah kita semua hanya menunggu layar itu terkembang, membawa kita menghadap sang ILLAHI, lalu sudah cukup bekalkah kita?
source : dari milist tetangga
